Monday, 5 May 2014

Sebelum Meninggal, Murid SDN 09 Jakarta Timur Alami Pendarahan Otak

http://ift.tt/eA8V8J

Anak malang, Renggo Khadafi (11), murid kelas 5 SDN 09 Makassar, Jakarta Timur, mengalami pendarahan selaput otak. Pendarahan ini diduga kuat akibat benturan benda tumpul.


Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, di Polda Metro Jaya, Senin (5/5/2014).


Terkait dengan apakah benturan benda tumpul itu terkait dengan penganiayaan yang dilakukan tiga kakak kelas Renggo pada Senin (28/4/2014), polisi masih menyelidikinya.


“Hari ini sudah diperiksa empat orang saksi, satu dari pelaku (S) dan tiga orang dari keluarga korban. Hasil dugaan sementara ini, ada aksi kekerasan dengan menggunakan benda tumpul yang mengakibatkan pendarahan selaput otak Renggo,” kata Rikwanto.


Polisi belum dapat membuat kesimpulan. Kesimpulan baru didapat setelah hasil visum terhadap jenazah Renggo keluar.


Jenazah Renggo dimakamkan pada Minggu (4/5/2014) jam 11.00 WIB di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Asem, Jakarta Timur. Sehari kemudian, polisi membongkar makam untuk autopsi jenazah karena ada dugaan Renggo meninggal akibat dianiaya kakak kelas.


Untuk mendalami kasus tersebut, polisi berencana memanggil enam saksi, yakni guru dan teman-teman korban.


Diwartakan sebelumnya, sebelum Renggo meninggal dunia pada Minggu (4/5/2014) dini hari, ia sakit keras. Itu terjadi setelah bocah ini dipukuli kakak kelasnya.


Selama ini, Renggo dirawat oleh ibu angkat bernama Yosi Puspa Dewi (31). Yosi merawat Renggo sejak usia enam tahun di rumahnya, Gang Raban, RT 5, RW 5, Kelurahan Halim Perdanakusuma, Kecamatan Makassar.


Kejadian naas itu berawal dari masalah sepele. Sehabis olahraga, Renggo menyenggol es pisang seharga Rp1.000 yang dipegang SY. Merasa bersalah, korban pun langsung minta maaf, bahkan mengganti es tersebut dengan uang. Namun, SY tetap tak terima. SY membuntuti Renggo hingga ruangan kelas. Yang terjadi kemudian, Renggo dipukuli SY dan dua temannya di bagian perut, dada, dan bokong.


Keesokan harinya, Selasa (29/4/2014), Renggo tidak bisa masuk sekolah karena demam dan muntah-muntah. Pada Sabtu(3/5/2014) jam 23.00 WIB, Renggo kejang-kejang dan hidung serta mulutnya keluar darah sehingga dilarikan ke Rumah Sakit Polri Sukanto Kramatjati.


Minggu (4/5/2014) jam 01.00 dini hari, Renggo menghembuskan nafas yang terakhir.






Sumber http://ift.tt/Sscql1

via suara.com

No comments:

Post a Comment