Thursday, 7 August 2014

Studi Terbaru: Hobit Flores Bukan Spesies Baru Manusia

http://ift.tt/eA8V8J

Pada Oktober 2004, penggalian sisa tulang belulang di gua purba Liang Bua, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menghasilkan apa yang dijuluki sebagai “penemuan terpenting terkait evolusi manusia dalam 100 tahun terakhir”.


Homo floresiensis, yang juga sering disebut manusia hobit dari Flores karena tingginya jauh di bawah manusia normal, diduga sebagai spesies baru yang tidak pernah dikenal sebelumnya dalam sejarah evolusi spesies manusia.


Tetapi sebuah hasil analisis ulang yang hasilnya diterbitkan dalam dua artikel di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 4 Agustus silam menemukan bahwa fosil itu bukanlah spesies manusia baru.


Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan internasional yang melibatkan pakar evolusi Amerika Serikat, pakar anatomi dan patologi Australia, serta pakar geologi dan paleoklimatologi Cina menyatakan bahwa fosil Liang Bua itu adalah tulang belulang manusia yang tidak tumbuh secara normal, yang mirip dengan orang yang menderita down syndrome.


Kesimpulan awal yang menghasilkan temuan Homo floresiensis itu sendiri diambil berdasarkan analisis terhadap tengkorak dan tulang paha. Kedua sampel itu kemudian disebut sebagai LB1.


“Sampel tulang dari gua Liang Bua terdiri dari potongan dari beberapa individu. Hanya LB1 yang memiliki tengkorak dan tulang paha dari seluruh sampel itu,” jelas Robert B. Eckhardt, pakar evolusi dan perkembangan genetik dari Pennsylvania State University, AS yang terlibat dalam riset itu.


Belum ada penemuan baru lagi di situs Liang Bua sejak penemuan LB1.


Tidak Unik


Adapun analisis awal dari Homo floresiensi fokus pada karakter anatomi LB1 yang unik: volume tengkorak hanya 380 milimeter kubik (sekitar sepertiga dari volume otak manusia modern) dan tulang paha pendek, yang jika direkonstruksi akan menghasilkan mahluk setinggi 1,06 meter.


Meski diperkirakan berasal dari 15.000 tahun lalu, jika dibandingkan dengan Homo erectus dan Australopithecus yang jauh lebih tua, karakter LB1 dinilai unik dan karenanya disimpulkan sebagai spesies baru.


Tetapi setelah dilakukan analisis ulang, khususnya dari segi studi klinis, para peneliti dalam temuannya menyimpulkan hasil yang berbeda.


Pertama, para peneliti menemukan bahwa fosil LB1 ternyata punya volume tengkorak lebih besar, sekitar 430 mm kubik. Volume itu mirip dengan volume tengkorak manusia modern penderita down syndrome di wilayah geografis di sekitar Flores. Volume tengkorak LB1 juga mirip dengan volume otak manusia dari ras Australomelanesian yang menderita down syndrome.


Sementara perhitungan tulang paha yang awalnya dibandingkan dengan rumus menghitung tinggi tubuh masyarakat pygmy di Afrika menurut para peneliti tidaklah istimewa. Alasannya karena manusia modern penderita down syndrome juga punya ciri tulang paha yang pendek.


“Hal yang tidak biasa tidak berarti unik. Ciri-ciri yang awalnya diutarakan tidak jarang ditemukan sehingga tidak bisa dijadikan patokan untuk menyimpulkan adanya spesies manusia baru,” jelas Eckhardt.


Down Syndrome


Sebagai gantinya, para peneliti kemudian mengemukakan hipotesis baru. Mereka menduga fosil LB1 adalah manusia modern yang terdiagnosis mengidap down syndrome, salah satu masalah pertumbuhan yang paling sering ditemukan pada manusia modern.


“Saat pertama kali melihat tulang belulang itu, beberapa dari kami langsung melihat adanya masalah dalam pertumbuhan,” kata Eckhardt.


Indikator down syndrome pertama yang terlihat adalah adanya pola asimetris pada tengkorak LB1. Artinya tengkorak kiri dan kanan fosil tidak sama dan hal ini lazim ditemukan pada penderita down syndrome.


Terkait tulang paha yang pendek, jelas Eckhardt, hal itu tidak saja sesuai dengan ciri pada penderita down syndrome, tetapi juga setelah dianalisis ulang panjang tulang paha LB1 ternyata lebih panjang. Jika direkonstruksi akan menghasilkan manusia setinggi 1,26 meter.


Di Flores dan wilayah lain di sekitar kawasan tenggara Indonesia, sambung Eckhardt, banyak ditemukan manusia yang tingginya sekitar 1,26 meter.


Meski demikian para peneliti menegaskan bahwa ciri-ciri down syndrome itu hanya ditemukan pada LB1 dan tidak pada fosil Liang Bua lainnya.


“Karya ini hanya untuk menguji hipotesis: Apakah tulang belulang dari gua Liang Bua cukup unik untuk menyimpulkan adanya spesies manusia baru?” ujar Eckhardt.


“Hasil analisis ulang kami menunjukkan jawaban: tidak. Penjelasannya adalah karena adanya kelainan pada pertumbuhan. Tanda-tanda yang ditemukan lebih menunjukkan pada down syndrome, yang bisa ditemukan pada lebih dari satu di setiap seratus kelahiran manusia di seluruh dunia,” beber Eckhardt. (Phys.org)






Sumber http://ift.tt/1oJRPox

via suara.com

No comments:

Post a Comment