Tuesday, 23 September 2014

Dalam Enam Pekan, Ebola Bisa Capai 20.000 Kasus

http://ifttt.com/images/no_image_card.png

Pandemi Ebola di Afrika Barat dapat menginfeksi 20.000 orang pada awal November jika tidak dilakukan pengendalian ketat atas penyebarannya.


Virus itu juga berpeluang untuk terus “meresahkan” selama bertahun-tahun, menurut para peneliti, Selasa (23/9/2014).


Dalam artikel di Jurnal Kesehatan New England, para ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Imperial College mengungkapkan bahwa penularan virus akan terus meningkat, kecuali ada tindakan mengisolasi pasien, menelusuri penularan dan mendata komunitas-komunitas yang rentan.


WHO, dalam sebuah rencana strategis tertanggal (28/8/2014), memprediksikan bahwa virus tersebut juga dapat menjangkiti 20.000 orang dalam sembilan bulan mendatang.


Saat ini badan Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat jumlah kematian akibat Ebola sedikitnya ada 2.811 dari 5.864 kasus terdata.


Sementara itu dalam penelitian terbaru –yang menandai enam bulan sejak Minggu (23/3) ketika WHO memperoleh informasi jika terjadi penyebaran Ebola di tenggara Guinea– tercantum perkiraan berdasarkan data dari gelombang ketiga virus itu di Guinea, Sierra Leone, dan kawasan terparah Liberia.


“Dengan perkembangan pesat virus, Anda akan melihat bahwa jumlah kasus setiap pekan terus naik sehingga pada pekan kedua November, di tiga negara tersebut, akan ada 20.000 kasus Ebola, baik positif ataupun terduga,” kata Direktur Strategi WHO dan salah satu peneliti Dr. Christopher Dye.


“Sekitar 10.000 orang di antaranya tinggal di Liberia, 5.000 orang di Sierra Leone dan hampir 6.000 orang di Guinea,” katanya.


Namun, tambah dia, hal itu hanya akan terjadi jika tidak ada peningkatan pengendalian penyebaran virus.


“Setiap orang bekerja sangat keras mencegah hal ini terjadi. Saya akan sangat terkejut jika ada 20 ribu orang yang terserang virus ini,” ujar Dye.


Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pekan lalu mengatakan bahwa berdasarkan rencana bantuan 1 miliar dolar, pihaknya akan menciptakan misi khusus untuk memerangi virus itu dan mengirimkan staf ahlinya ke kawasan tersebut.


Dye menuturkan jika pengendalian ini berhasil sesuai rencana maka virus Ebola akan hilang dari populasi di Afrika Barat dan kemungkinan bisa kembali ke hewan inangnya yang diperkirakan adalah kelelawar buah.


“Tetapi jika usaha pengendalian itu tidak berhasil seutuhnya, penyebaran Ebola pada manusia bisa menjadi ‘bagian permanen dalam kehidupan di Afrika Barat’,” ujar dia.


Dye menambahkan ada kemungkinan epidemi ini berkembang sepesat beberapa bulan terakhir hingga beberapa tahun ke depan.


“Kekhawatiran kita adalah Ebola akan menjadi bagian permanen yang mengiringi kehidupan manusia. Namun tentu saja hal itu bisa dibasmi suatu saat nanti,” lanjutnya.


Dr. Christopher Dye melihat adanya pola campuran pada tiga negara di Afrika yang terkena wabah Ebola.


“Contohnya adalah pada beberapa daerah perbatasan di Guinea, Sierra Leone dan Liberia, tidak ada catatan peningkatan kasus untuk beberapa minggu ini. Pertanyaannya apakah sebenarnya ini awal dari pola statis (tetap) epidemi ini,” ujar dia.


“Pada dua provinsi Sierra Leone dengan penyebaran terparah, Kenema dan Kailahun yang dekat dengan Guinea dan Liberia, ditemukan pola penyebaran virus yang tetap,” kata dia.


“Apa yang kami lihat dari beberapa pekan lalu di sana, mungkin 10 minggu lalu, pola kejadian dan jumlah kasus tidak mengalami perubahan signifikan,” ujarnya.


Dia melanjutkan bahwa ada indikasi penyebarannya akan menurun namun itu tidak mengurangi kewaspadaan para peneliti.


Ini adalah salah satu tanda keberhasilan pengendalian penyebaran virus, ujar dia, tetapi apakah penyebaran penyakit ini akan terus stabil akan terlihat jelas pada beberapa pekan berikut.


Tidak ada kasus baru yang terdata di Nigeria atau Senegal dalam tiga pekan terakhir, terkait waktu inkubasi virus selama 21 hari, yang biasanya ditandai dengan gejala demam, muntah-muntah dan diare.


“Sedikit melegakan saat penyakit seperti Ebola dapat masuk ke sebuah kota dengan 20 juta orang, yaitu Lagos, namun kami berhasil menghentikan penyebarannya, atau mungkin rakyat Nigeria dapat menghentikannya,” ujar Dye.


Tetapi, tambah dia, mereka belum bisa memetakan status Ebola di ibu kota Liberia, Monrovia, lokasi virus menyebar dengan sangat cepat.


“Jika anda menanyakan apakah kami bisa membasmi Ebola dari Liberia? Saya tidak yakin. Secara teori kami tahu cara mengatasinya, namun dapatkah kami melakukannya di lapangan? Kita lihat saja nanti,” tuturnya. (Antara/Reuters)








Sumber http://suara.com/lifestyle/2014/09/24/041048/dalam-enam-pekan-ebola-bisa-capai-20-000-kasus/

via suara.com

No comments:

Post a Comment